Laporan Akhir 1



1. Jurnal [Kembali]

2. Alat dan Bahan [Kembali]


  1. Panel DL 2203C 
  2. Panel DL 2203D 
  3. Panel DL 2203S 
  4. Jumper 
  5. Laptop dengan software Proteus 8.17 
 

3. Rangkaian Simulasi [Kembali]

      



4. Prinsip Kerja Rangkaian [Kembali]

A)J-K Flip Flop 

JK flip-flop adalah rangkaian logika sekuensial yang memiliki dua input (J dan K), dua output (Q dan Q̅), serta dikendalikan oleh sinyal clock. Prinsip kerjanya adalah saat J=0 dan K=0, output tetap mempertahankan keadaan sebelumnya (hold), saat J=0 dan K=1 output Q menjadi 0 (reset), saat J=1 dan K=0 output Q menjadi 1 (set), dan saat J=1 dan K=1 output Q akan toggle atau berbalik dari keadaan sebelumnya. Perubahan output hanya terjadi ketika ada pulsa clock (sesuai dengan jenis pemicu, rising edge atau falling edge), sehingga JK flip-flop dapat berfungsi sebagai penyimpan data sekaligus pembalik keadaan (toggle) secara sinkron.

B)D Flip Flop

D flip-flop adalah rangkaian logika sekuensial yang memiliki satu input data (D), satu output (Q dan Q̅), serta dikendalikan oleh sinyal clock. Prinsip kerjanya adalah saat pulsa clock aktif (sesuai jenis pemicu rising edge atau falling edge), output Q akan mengikuti nilai input D; jika D=1 maka Q menjadi 1, dan jika D=0 maka Q menjadi 0. Dengan kata lain, D flip-flop berfungsi sebagai penyimpan data satu bit yang hanya memperbarui output pada saat clock aktif, sedangkan ketika tidak ada pulsa clock, output mempertahankan keadaan terakhirnya.

 

5. Video Rangkaian [Kembali]







 

6. Analisa [Kembali]

1. Analisa Input dan output pada masing masing kondisi, buatkan prosesnya menggunakan rangkaian dalam masing" flip flop

jawab :

1) Kondisi S = 1, R = 0

Pada saat masukan S = 1 dan R = 0, jalur reset pada SR latch akan aktif sementara jalur reset tidak bekerja. Kondisi ini menyebabkan latch berada pada keadaan set, sehingga keluaran Q dipaksa menjadi 0. Karena Q dan Q̅ saling berhubungan melalui rangkaian silang, maka Q̅ otomatis bernilai 1. 

D Flip Flop

S=1,R=0, jalur reset aktif sehingga Q dipaksa output 0 dan  Q̅ beroutput 1

 

2) Kondisi S = 0, R = 1

Ketika masukan S = 0 dan R = 1, jalur reset tidak aktif sedangkan jalur set aktif. Kondisi ini memaksa SR latch untuk melakukan reset sehingga keluaran Q dipaksa menjadi 1. Karena sifat komplemen, maka Q̅ otomatis bernilai 0. 

D Flip Flop

S=0,R=1, jalur set aktif sehingga Q dipaksa output 1 dan  Q̅ beroutput 0

3) Kondisi S = 0, R = 0

Apabila masukan S = 0 dan R = 0, artinya kedua jalur yang aktif baik pada sisi set maupun reset.  Q = 1, Q̅ = 1 

D Flip Flop

S=0,R=0, jalur set dan reset aktif sehingga Q  dan  Q̅ beroutput 1 

4) Kondisi S = 1, R = 1, J=0, dan K=0

Kedua jalur gerbang AND tidak aktif sehingga S dan R tetap 1, output Q=0 dan Q̅=1

D Flip Flop

saat B6 Rising edge  dan B5 (D) =0, karena ada input 0 pada gerbang AND sehingga menghasilkan output 0 yang diinputkan ke gerbang NOR dan AND kedua beroutput 1, gerbang NOR Q beroutput 0 dan gerbang NOR Q̅ beroutput 1

5) Kondisi S = 1, R = 1, J=0, dan K=1

Jalur K mengaktifkan reset, setelah clock memicu transfer, output Q=0 dan Q̅=1

D Flip Flop

saat B6 Rising edge  dan B5 (D) =1,  gerbang AND pertama beroutput 1 karena memiliki 1 input 1, gerbang AND kedua yang melewati NOT terlebih dahulu beroutput 0, gerbang NOR Q̅ beroutput 0 karena ada input 1, sementara gerbang NOR Q beroutput 1 karena memiliki input 0 di kedua kaki

6) Kondisi S = 1, R = 1, J=1, dan K=0

Jalur J mengaktifkan set, setelah clock memicu transfer, output Q=1 dan Q̅=0

D Flip Flop

saat B6 = 0  dan B5 (D) =don't care, kedua output gerbang AND pasti 0 yang diinputkan ke gerbang NORyang menghasilkan output Q = 1 dan  Q̅ = 0 (stand) tidak ada perubahan dari keadaan sebelumnya 

6) Kondisi S = 1, R = 1, J=1, dan K=1

kedua jalur, baik set dan rsest aktif, setelah clock memicu transfer, output Q dan Q̅ berubah-ubah ssuai sinyal clock (toggle)

D Flip Flop

saat B6 dan B5 (D) dilepas, nilai output tidak berubah

2. Analisa perbedaan perbedaan yang terdapat antara J-K & D  

Jawab

JK flip-flop memiliki dua input (J dan K) yang memungkinkan empat kondisi kerja, yaitu hold, set, reset, dan toggle, sehingga lebih fleksibel dan dapat digunakan sebagai penyimpan data maupun pembalik keadaan (toggle). Sebaliknya, D flip-flop hanya memiliki satu input data (D) sehingga prinsip kerjanya lebih sederhana: output hanya menyalin nilai D pada saat clock aktif. JK flip-flop cocok untuk aplikasi yang memerlukan pencacahan (counter) karena dapat melakukan toggle otomatis saat J dan K bernilai 1, sedangkan D flip-flop lebih sering digunakan untuk register atau penyimpanan data karena mampu menjaga kestabilan output tanpa risiko kondisi terlarang

 

 

5. Link Download [Kembali]

 



 


 




Tugas Pendahuluan 2



1. Kondisi [Kembali]

Buatlah rangkaian T flip flop seperti pada gambar pada percobaan dengan ketentuan input B0=0, B1=1, B2=0

2. Gambar Rangkaian Simulasi[Kembali]


 

3. Video Simulasi[Kembali]



4. Prinsip Kerja Rangkaian[Kembali]

Pada percobaan ini, dengan kondisi B0=0, B1=1, dan B2=0, rangkaian JK flip-flop berada dalam keadaan reset asinkron karena input clear aktif (low). Hal ini menyebabkan keluaran Q menjadi 0 dan Q̅ menjadi 1, terlepas dari sinyal clock maupun nilai J-K. Dengan kata lain, flip-flop terkunci dalam kondisi reset sampai input clear dinonaktifkan. Setelah clear dilepas (B0=1), pada tepi naik clock berikutnya flip-flop akan masuk ke mode set karena J=1 dan K=0, sehingga Q berubah menjadi 1.

5. Link Download[Kembali]



 






 






Tugas Pendahuluan 1



1. Kondisi [Kembali]

Buatlah rangkaian J-K flip flop dan D flip flop seperti pada gambar pada percobaan dengan ketentuan input B0=1, B1=1, B2=1, B3=clock, B4=0, B5=tidak dihubungkan, B6=clock

2. Gambar Rangkaian Simulasi[Kembali]


 

3. Video Simulasi[Kembali]



4. Prinsip Kerja Rangkaian[Kembali]

Pada kondisi B0=1, input D flip-flop selalu HIGH. Setiap kali clock B3 naik, keluaran Q D flip-flop akan menjadi HIGH secara stabil. Sementara itu, JK flip-flop menerima J=1 dan K=1 sehingga bekerja pada mode toggle. Pada setiap pulsa clock B6, JK flip-flop akan membalikkan keluarannya (Q berubah dari HIGH menjadi LOW atau sebaliknya). Jika B4 diatur LOW dan berfungsi sebagai clear, maka output JK flip-flop dipaksa menjadi LOW hingga clock berikutnya. Kombinasi kedua flip-flop ini menghasilkan satu keluaran stabil HIGH dan satu keluaran toggle yang berubah-ubah sesuai pulsa clock, sehingga dapat digunakan sebagai pembagi frekuensi atau sinyal pengendali dalam rangkaian sekuensial.

5. Link Download[Kembali]



 






 




Flip-Flop

Modul 2




MODUL 2

FLIP FLOP

1. Tujuan [Kembali]

  1.  Merangkai dan menguji berbagai macam flip-flop.

2. Alat dan Bahan [Kembali]


  1. Panel DL 2203C 
  2. Panel DL 2203D 
  3. Panel DL 2203S 
  4. Jumper 

3. Dasar Teori[Kembali]

Flip-flop adalah rangkaian elektronika yang memilki dua kondisi stabil dan dapat digunakan untuk menyimpan informasi. Flip-flop merupakan pengaplikasian gerbang logika yang bersifat Multivibrator Bistabil. Dikatakan Multibrator Bistabil karena kedua tingkat tegangan keluaran pada Multivibrator tersebut adalah stabil dan hanya akan mengubah situasi tingkat tegangan keluarannya saat dipicu (trigger). Flip-flop mempunyai dua Output (Keluaran) yang salah satu outputnya merupakan komplemen Output yang lain.  
 
a. R-S Flip-Flop  
R-S Flip-flop merupakan dasar dari semua flip-flop yang memiliki 2 gerbang inputan atau masukan yaitu R dan S.

b. J-K Flip-Flop 
J-K Flip-flop merupakan flipflop yang tidak memiliki kondisi terlarang atau yanng berarti diberi berapapun inputan asalkan terdapat clock maka akan terjadi perubahan pada keluaran atau outputnya.

 

c. D Flip-Flop 
D Flip-flop merupakan salah satu jenis flip-flop yang dibangun dengan menggunakan flip-flop R-S . Perbedaan dengan R-S flip-flop terletak pada inputan R, dan D Flip-flop inputan R terlebih dahulu diberi gerbang NOT.


 d. T Flip-Flop  
T Flip-flop merupakan rangkaian flip-flop yang telah di buat dengan menggunakan J-K Flip-flop yang kedua inputannya dihubungkan menjadi satu. Jika input T nya aktif dan dipengaruhi oleh clock maka outputnya akan berubah dan jika T tidak aktif walaupun dipengaruhi oleh clock maka outputnya tidak berubah.


 

4. Percobaan [Kembali]

2.4.1 Percobaan 1 J-K flip flop dan D flip flop  
1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar berikut.


 

 

2. Buatlah kondisi switch-switch seperti pada jurnal yang telah disediakan 

3. Catat kondisi logika LED H0 & H1 nya.

2.4.2 Percobaan 2 T flip-flop dan aplikasinya 

1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 7. Hubungkan Output Q dan Q dengan LED H7 & H6.  


 2. Buatlah kondisi Switch B0 s/d B4 seperti pada jurnal yang telah disediakan dan catat kondisi logika LED H0 & H1 nya.

Laporan Akhir 3



1. Jurnal [Kembali]




2. Alat dan Bahan [Kembali]

  1. Laptop. 
  2. Software Proteus ver minimal 8.17

3. Rangkaian Simulasi [Kembali]

      a. Multiplexer

b. Demultiplexer


 


4. Prinsip Kerja Rangkaian [Kembali]

a. Multiplexer 

IC 4052 merupakan multiplexer/demultiplexer analog ganda dengan konfigurasi dual 4-channel. Artinya, IC ini memiliki dua bagian multiplexer, masing-masing dengan 4 input yang dapat dipilih menggunakan 2 pin selektor (A dan B). Prinsip kerjanya adalah sinyal biner pada pin selektor menentukan jalur mana dari input yang akan terhubung ke output. Misalnya, jika selektor bernilai 00, maka input X0 atau Y0 akan tersambung ke output; jika selektor 01, maka input X1 atau Y1 yang dipilih, dan seterusnya. Selain itu, IC ini juga memiliki pin enable yang berfungsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkan seluruh fungsi multiplexer. Karena sifatnya analog, IC 4052 dapat meneruskan sinyal digital maupun sinyal analog (seperti tegangan AC kecil), sehingga banyak digunakan dalam rangkaian pemilih sinyal, sistem audio, dan aplikasi komunikasi.

b. Demultiplexer

IC 74154 adalah demultiplexer/decoder 4-to-16 yang berfungsi mengubah input biner 4-bit menjadi salah satu dari 16 output. Prinsip kerjanya, kombinasi logika pada 4 pin input selektor (A, B, C, D) akan menentukan output mana yang aktif. IC ini bersifat aktif low, sehingga hanya satu output yang akan bernilai rendah (0) sesuai input biner, sementara output lainnya tetap tinggi (1). Selain itu, IC 74154 dilengkapi dengan pin enable yang harus diaktifkan agar fungsi demultiplexer bekerja. Dengan mekanisme ini, IC 74154 banyak digunakan pada sistem digital untuk pemilihan jalur, pengendalian perangkat, maupun rangkaian dekoder memori.

 

 

5. Video Rangkaian [Kembali]



 

6. Analisa [Kembali]

  1. Analisa hasil percobaan Multiplexer (percobaan 3a) ketika input data X0, X1, X2, X3 diberi variasi logika, lalu S0 dan S1 diubah-ubah.
  2.  Analisa hubungan antara persamaan Demux dengan persamaan Decoder. Mengapa Demux dapat dianggap sebagai Decoder yang diberi satu input data tambahan 𝐷
Jawab

1. Pada percobaan ini digunakan IC 4052 yang berfungsi sebagai multiplexer 4-to-1. Fokus pengamatan dilakukan pada kanal X dengan empat input (X0, X1, X2, X3) yang diberi variasi logika 0 dan 1. Pemilihan input mana yang diteruskan ke output X ditentukan oleh kombinasi sinyal selektor S0 dan S1. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap perubahan kombinasi selektor akan langsung mengalihkan output X ke salah satu input:

    • Saat S1S0 = 00, output X selalu mengikuti logika dari X0. Apabila X0 diberi logika 1, maka output X juga 1, begitu pula sebaliknya.
    • Saat S1S0 = 01, output X berpindah mengikuti X1. Perubahan logika pada X1 langsung tercermin pada output X.
    • Saat S1S0 = 10, output X dikendalikan oleh X2. Jika X2 = 1 maka output X = 1, jika X2 = 0 maka output X = 0.
    • Saat S1S0 = 11, output X bergantung pada X3. Variasi logika pada X3 menentukan langsung kondisi output X.
    • Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa multiplexer bekerja sesuai prinsipnya, yaitu hanya satu input yang diteruskan ke output pada satu waktu, dan input yang dipilih ditentukan sepenuhnya oleh kombinasi S0 dan S1. Variasi logika pada input yang tidak dipilih tidak memengaruhi output.
2 .Decoder merupakan rangkaian logika yang berfungsi mengaktifkan satu keluaran tertentu berdasarkan kombinasi input biner yang diberikan pada bagian selektor. Misalnya pada decoder 2-to-4, kombinasi dua input selektor (A dan B) akan menghasilkan empat keluaran (Y0–Y3), di mana hanya satu output yang bernilai logika tinggi sesuai kombinasi tersebut. Persamaan logika yang terbentuk adalah
Y0=AB,
Y1=AB
Y2=AB dan
Y3=AB
Berbeda dengan decoder, demultiplexer memiliki satu input data tambahan, yaitu D. Persamaan logika demultiplexer 1-to-4 dengan selektor A dan B adalah
Y0=DAB,
Y1=DAB,
Y2=DAB, dan
Y3=DAB
Dari persamaan tersebut terlihat jelas bahwa bentuk dasarnya sama dengan decoder, hanya saja pada demux setiap persamaan keluaran dikalikan dengan data input D. Hal ini menunjukkan bahwa demux sebenarnya adalah sebuah decoder yang diberi tambahan jalur data. Decoder hanya memilih output mana yang aktif, sedangkan demux tidak hanya memilih, tetapi juga meneruskan nilai logika dari input data D ke jalur output yang dipilih. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa demultiplexer adalah implementasi decoder yang memiliki input data tambahan.

  

5. Link Download [Kembali]

 



 


 




Laporan Akhir 1



1. Jurnal [Kembali]




2. Alat dan Bahan [Kembali]

1. Panel DL 2203C. 
2. Panel DL 2203S.

3. Jumper.  


3. Rangkaian Simulasi [Kembali]

      A)


B)






4. Prinsip Kerja Rangkaian [Kembali]

A)Gerbang Logika  

Pada rangkaian ini terdiri atas 7 gerbang yaitu gerbang NOT, AND, OR, XOR, NAND, NOR, dan XNOR yang terhubung ke 2 input B0 dan B1 dan memiliki 8 output yaitu H0, H1, H2, H3, H4, H5, H6, dan H7. Kedua input dapat kita atur ke logika satu dengan menghubungkan switch ke tegangan 5 volt dan ke logika nol dengn menghubungkan switch ke ground. Lalu akan masuk kedelapan gerbang logika yang nantinya akan menghasilkan output sesuai proses pada gerbang logika tersebut yang akan diperlihatkan pada LED. Jika LED menyala berarti output adalah logika 1 dan jika LED tidak menyala maka output berlogika nol

B)Aljabar Boolean

Pada rangkaian 1 terdapat 3 gerbang yang terdiri atas gerbang XOR 2 input, gerbang AND 3 input dan gerbang OR 2 input. Kemudia ada 3 switch input yang dikodekan dengan A, B, C, dan D. Dimana switch C bersifat invers yang bisa dilakukan dengan memasang gerbang NOT. Gerbang XOR terhubung ke input B dan D, gerbang AND terhubung ke input A, C invers, dan D, lalu output dari kedua masuk ke gerbang OR yang outputnya berupa LED. Saat kita mengkombinasikan input di A, B, C, dan D maka kita bisa melihat output akhir dari LED. Jika LED menyala maka output berlogika 1 jika LED tidak menyala maka output berlogika 0 

Pada rangkaian 2 terdapat 3 gerbang yang terdiri atas gerbang XOR 2 input, gerbang AND 3 input dan gerbang OR 2 input. Kemudia ada 3 switch input yang dikodekan dengan A, B, C, dan D. Dimana switch B bersifat invers yang bisa dilakukan dengan memasang gerbang NOT. Gerbang XOR terhubung ke input B dan D, gerbang AND terhubung ke input A, B invers, dan C, lalu output dari kedua masuk ke gerbang OR yang outputnya berupa LED. Saat kita mengkombinasikan input di A, B, C, dan D maka kita bisa melihat output akhir dari LED. Jika LED menyala maka output berlogika 1 jika LED tidak menyala maka output berlogika 0

 

5. Video Rangkaian [Kembali]




 

6. Analisa [Kembali]

1. Analisa masing-masing output H1 dan H2 ketika variasi A,B,C,D pada percobaan 1b!

Jawab:

  1. A=0, B=0, C=0, D=0, Pada kondisi semua input dimatikan, tidak ada sinyal yang masuk ke jalur logika. Karena tidak ada kombinasi yang memenuhi syarat di gerbang AND maupun XOR, maka kedua output, baik H1 maupun H2, sama-sama tidak menyala. Output: (0,0)
  2. A=1, B=0, C=0, D=0, Hanya input A yang diberi logika 1. Namun, A tidak cukup untuk mengaktifkan kombinasi gerbang yang ada. H1 dan H2 tetap tidak terpicu karena syarat masukannya tidak terpenuhi. Output: (0,0) 
  3. A=0, B=1, C=0, D=0, Ketika hanya B yang menyala, terlihat bahwa jalur ke H1 bisa terpicu. Hal ini karena input B masuk ke rangkaian XOR/AND yang dapat menghasilkan logika 1 di H1 meskipun tanpa A, C, atau D. Akan tetapi, H2 masih belum aktif. Output: (1,1)
  4. A=1, B=1, C=0, D=0. Kombinasi A dan B menyala bersamaan memberikan sinyal penuh ke rangkaian. Hasilnya, baik H1 maupun H2 sama-sama aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketika A dan B dipasangkan, kedua jalur output dapat terpicu sekaligus. Output: (1,1)
  5. A=0, B=0, C=1, D=0, Input yang aktif hanya C. Namun jalur ini melewati gerbang NOT terlebih dahulu sehingga kondisinya tidak cukup untuk menyalakan output. Akibatnya, baik H1 maupun H2 tetap mati. Output: (0,0)
  6. A=1, B=0, C=1, D=0, A dan C menyala bersamaan. Meskipun terlihat lebih kompleks, ternyata hasil akhirnya masih tidak memenuhi persyaratan logika gabungan untuk menyalakan H1 maupun H2. Semua output tetap 0. Output: (0,0)
  7. A=0, B=1, C=1, D=0, Dengan kombinasi B dan C aktif, terjadi perubahan pada jalur logika. H1 menyala karena rangkaian menerima kondisi yang sesuai, dan H2 juga ikut terpicu. Jadi kedua output menunjukkan logika 1. Output: (1,1)
  8. A=1, B=1, C=1, D=0, Ketiga input (A, B, dan C) aktif secara bersamaan. Kondisi ini jelas cukup kuat untuk membuat kedua output menyala. H1 menyala lebih dulu melalui jalur B, dan H2 ikut terpicu melalui kombinasi gabungan. Output: (1,1)
  9. A=0, B=0, C=0, D=1, Hanya input D yang bernilai 1. Jalur D saja  cukup untuk menyalakan output.  Output: (1,1)
  10. A=1, B=0, C=0, D=1, A dan D aktif bersamaan, kombinasi ini  membentuk syarat yang dibutuhkan pada gerbang logika. Akhirnya, kedua output  1. Output: (1,1)
  11. A=0, B=1, C=0, D=1, B dan D menyala. Dari hasil pengamatan, kombinasi ini tidak cukup untuk membuat H1 aktif, H2 juga masih tidak terpenuhi. Output: (0,0)
  12. A=1, B=1, C=0, D=1, Ketika A, B, dan D aktif bersamaan, terlihat bahwa kedua output terpicu. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antara sinyal B dan jalur tambahan dari A-D yang mendukung logika gabungan. Output: (1,1)
  13. A=0, B=0, C=1, D=1, C dan D sama-sama menyala, dan ternyata kombinasi ini cukup untuk menyalakan baik H1 maupun H2. Jadi pada kondisi ini kedua output bernilai 1. Output: (1,1)
  14. A=1, B=0, C=1, D=1, A, C, dan D aktif bersamaan.  Dalam kondisi ini, baik H1 maupun H2 tetap aktif. Output: (1,1)
  15. A=0, B=1, C=1, D=1, B, C, dan D aktif secara bersamaan. Hasil pengamatan menunjukkan H1 tidak menyala, H2 tidak ikut aktif. Jadi tidak output yang menyala. Output: (0,0)
  16. A=1, B=1, C=1, D=1, Semua input aktif. Karena adanya sifat khusus pada gerbang XOR dan interaksi dengan gerbang lain, justru output keduanya mati. Jadi hasil akhirnya adalah 0,0. Output: (0,0)

5. Link Download [Kembali]

 



 


 




Laporan Akhir 2



1. Jurnal [Kembali]



2. Alat dan Bahan [Kembali]

  1. Laptop. 
  2. Software Proteus ver minimal 8.17

3. Rangkaian Simulasi [Kembali]

      A. Encoder


B. Decoder


 

4. Prinsip Kerja Rangkaian [Kembali]

A. Encoder

IC 74LS147 adalah priority encoder dengan input desimal 0 sampai 9 dan output berupa kode biner 4-bit. Input maupun output IC ini bekerja dengan sistem aktif low, artinya input dianggap aktif jika diberi logika rendah (0), dan output yang dihasilkan pun dalam bentuk biner terbalik (low aktif).

Prinsip kerjanya adalah ketika salah satu input diberi logika rendah, IC akan mengeluarkan kombinasi biner sesuai nomor input tersebut. Namun, jika ada lebih dari satu input aktif bersamaan, maka IC akan memilih input dengan nilai angka lebih tinggi sebagai prioritas. Dengan cara ini, IC dapat mengubah banyak jalur input desimal menjadi kode biner yang lebih sederhana, sehingga lebih efisien untuk diproses oleh rangkaian digital.

 B. Decoder

IC 4028 merupakan BCD-to-decimal decoder yang berfungsi mengubah kode biner 4-bit (BCD) menjadi salah satu dari 10 output desimal. Input yang masuk berupa kode biner 0000 sampai 1001 (angka 0 sampai 9), dan dari sepuluh jalur output yang tersedia, hanya satu output yang akan aktif sesuai dengan kode input yang diberikan.

Dengan prinsip kerja tersebut, decoder 4028 dapat digunakan untuk mengaktifkan satu jalur tertentu berdasarkan input biner. IC ini banyak dipakai dalam rangkaian seven-segment display maupun sistem pemilihan jalur, karena mampu mengubah sinyal biner hasil proses digital kembali menjadi sinyal satu keluaran yang mudah dikenali.  

5. Video Rangkaian [Kembali]



 

6. Analisa [Kembali]

1. Analisa Pengaruh dari Output Low dan juga Output High pada Percobaan encoder 2a

2. Analisa setiap pengaruh input terhadap output decoder IC 4028 pada percobaan 2b, apa yg terjadi jika tidak ada input aktif, dan apa yg terjadi jika input melebihi biner 9(1001)

jawab:
1. output LOW menandakan bahwa bit biner tersebut sedang aktif atau bernilai 1. Misalnya, ketika keluaran menunjukkan kombinasi Y3=1, Y2=0, Y1=1, Y0=0, maka setelah melalui proses inversi hasil tersebut merepresentasikan angka desimal 5 (0101 dalam BCD). Dengan demikian, LOW menjadi penanda utama angka yang sedang dipilih. Sebaliknya, kondisi output HIGH menunjukkan bahwa bit tidak aktif atau bernilai 0, berfungsi sebagai pelengkap kombinasi biner. Jika semua output berada pada posisi HIGH (1111), berarti tidak ada input yang aktif, atau disebut kondisi implied zero. Saat salah satu input aktif, hanya bit tertentu yang berubah menjadi LOW sesuai angka yang dipilih, sedangkan bit lainnya tetap HIGH sebagai penanda 0.

 2. -Jika Tidak Ada Input Aktif

Yang dimaksud dengan tidak ada input aktif adalah ketika keempat input (A, B, C, D) berada pada kondisi logika rendah (0). Pada keadaan ini, nilai biner yang terbentuk adalah 0000, sehingga keluaran yang aktif adalah Z0, sedangkan Z1–Z9 tetap berada pada logika "0". Artinya, ketika tidak ada input yang diberikan (semua OFF), decoder otomatis memilih keluaran pertama (Z0).

-Jika Input Melebihi Biner 9 (1001)

Decoder 4028 dirancang hanya untuk menerima masukan dalam bentuk BCD, yaitu dari 0000 (0 desimal) sampai 1001 (9 desimal). Jika diberikan masukan di luar itu, misalnya 1010 (10 desimal) hingga 1111 (15 desimal), maka:

Tidak ada satupun output Z0–Z9 yang aktif. Semua output akan berada pada logika rendah (0). decoder menganggap input tersebut sebagai tidak valid sehingga hasilnya adalah "blank output".

Hal ini memang sudah menjadi karakteristik IC 4028 sesuai datasheet. Karena itu, penggunaan IC ini terbatas hanya sampai bilangan desimal 9.

 

5. Link Download [Kembali]


 


 




Download File

  LINK DOWNLOAD Rangkaian Proteus  [Download] Video Demo  [Download] Datsheet Sensor Gas MQ-3 [Download] Datasheet sensor suhu LM 35  [Downl...